Dale Appleby

...resources for Christian ministry

Bahasa Indonesia

Sejarah Singkat Gereja Anglikan

Sejarah Singkat Gereja Anglikan

1. Gereja di Britania sebelum Augustine

2. Gereja di Barat sebelum Augustine

3. Perkembangan Gereja Barat

4. Gerakan-gerakan menuju Reformasi

5.  Reformasi di Inggris

5.1 Gereja di Inggris di bawah Raja Henry VIII

5.2 Gereja Inggris di bawah Raja Edward VI

5.3 Gereja Inggris di bawah Ratu Mary

5.4 Gereja Inggris di bawah Ratu  Elizabeth I

5.5 Gereja Inggris di bawah Raja James I

5.6 Gereja Inggris di bawah Raja Charles I

5.7 Persemakmuran

6.  Anglikanisme sejak 1662

6.1  James II dan William III

6.2  Abad ke-18

6.3  Kebangkitan Injil

6.4 Gerakan Oxford

7.  Pesekutuan Anglikan Modern

 

1.  Gereja di Britania sebelum Augustine

Orang Kristen datang ke Britania pada tahun 200, dan beberapa di antaranya adalah pedagang; sedangkan yang lain adalah prajurit Romawi. Martir Inggris pertama bernama Alban, seorang prajurit yang masuk agama Kristen sesudah dia membantu pendeta yang teraniaya. Alban memperbolehkan pendeta itu melarikan diri. Tanggal tradisional kematian Alban sudah diperkirakan sekitar 304, pada masa penganiayaan  di bawah Diocletian, tetapi riset terkini, menempatkan pada tahun 209, pada masa Kaisar Severus.

Walaupun Augustine adalah Archbishop Canterbury yang pertama, Gereja Keltik sudah ada sebelum Augustine datang, dan para bishop dari gereja di Inggris sudah hadir pada Konsili Arles pada tahun 314

Di Irlandia, khususnya, kehidupan intelektual yang kuat sudah dikembangkan di biara-biara.  Patrick, kemungkinan dari Britania, diutus sebagai pengabar Injil, ke Irlandia pada permulaan abad ke-5.  Gereja ini, yang berada di luar batas kekaisaran Romawi, berkembang dengan cara yang berbeda dari gereja barat, dan kekuatannya adalah dalam biara-biara yang terpencar-pencar  yang dapat ditemukan di segala pusat suku bangsa. Pada abad sesudah orang Romawi meninggalkan Britania sekitar tahun 410,  dan orang-orang Anglo-Saxon berkuasa, misionaris dari Irlandia membawa Injil ke Skotlandia, Wales, Cornwall, dan Eropa.

Jadi, gereja yang berkembang  di Britania sebelum misionaris yang diutus dari gereja di Roma tiba,  adalah Keltik menurut asal dan budayanya.

2. Gereja di Barat sebelum Augustine

Pada tahun 306, Constantius I, Kaisar Bagian Barat Kekaisaran Romawi, meninggal dunia di York, Britania. Anak lelakinya, Constantine, dinyatakan sebagai Kaisar oleh Tentara Romawi di Britania, dan menjadi Kaisar bagian Eropa dan Britania. Pada tahun 312 dia mengalahkan saingannya di Barat, Maxentius, dan menjadi Kaisar tunggal bagian barat kekaisaran Romawi. Dia menghubungkan kemenangan ini dengan Tuhan Kristen dan memerintahkan prajuritnya memakai lambang “Chi Rho” pada perisai mereka. Dia dan Licinius, Kaisar di Timur, memproklamasikan toleransi baik untuk orang Kristen maupun kafir. Constantine mengalahkan Licinius pada tahun 324 dan menjadi Kaisar tunggal seluruh kekaisaran.

Arianisme dan Trinitas

Perdebatan di Aleksandria segera menarik Kaisar. Perdebatan ini muncul karena guru di Aleksandria bernama Arius. Dia mencoba menyatakan ajaran Kristen tentang Tuhan dengan cara yang dapat dimengerti orang Platonis. Dia memulai dengan ide bahwa Tuhan yang Mahatinggi adalah satu dan oleh karena itu Kristus tidak dapat menjadi kekal sama seperti Tuhan. Pepatahnya adalah, “Pernah ada (saat) Ia tidak ada”.  Kristus tidak setara dengan Bapa dan sudah diciptakan oleh Bapa dari tidak ada apa-apa, sungguhpun Kristus tertinggi dari semua mahluk Tuhan.

Banyak orang di Aleksandria mendukung Arius, tetapi tidak bishop Aleksander. Konsili bishop di Mesir menolak ajarannya, sehingga dia meminta pertolongan kepada temannya, Eusebius, bishop dari Nicomedia. Kaisar Constantine mencoba mencegah perdebatan yang meretakkan gereja ini, dan kemudian menyebabkan masalah di kekaisaran. Dia merencanakan untuk memanggil Konsili gereja ke Ancyra, tetapi pelawan-pelawan Arius memanggil pertemuan lebih dulu di Antioch agar memilih bishop yang baru untuk kota itu dan agar menolak ajaran-ajaran Arius. Kaisar menjadi marah dan memanggil Konsili yang akan dia pimpin—di Nicea, dekat markas besarnya di Nicomedia.

Pada Konsili di Nicea, pada tahun 325, Constantine (mungkin mengikuti usul bishop Hosius dari Cordova) mengusulkan kalimat, bahwa Anak adalah “sehakikat ” (B.Y. homoousios. B.Ing substance/being) dengan Bapa. Keputusan Konsili menjadi dasar Pengakuan Nicea yang merupakan pengakuan yang dipakai baik oleh Gereja Barat maupun Gereja Timur. Meskipun  Arius dikalahkan, namun ajaran Arianisme tidak mati. Beberapa bishop dari timur berpendapat bahwa “homoousios” terlalu mirip ajaran sesat monarchianisme.

Akhirnya, kaisar baru, Theodosius, yang tidak setuju dengan penganut Arianisme, memanggil Konsili di Constantinople pada tahun 381. Hasil akhirnya adalah menggambarkan Tuhan sebagai tiga pribadi (BY hypostases; B.Ing persons) dalam satu hakikat (BY ousia. B.Ing essence, substance, being). Tertullian, teologis dari Kartage, telah mengusulkan versi di dalam bahasa Latin “tiga persona dan satu substantia”.

Konsili ini menyelesaikan pengakuan iman yang kita namakan Pengakuan Iman Nicea (-Konstaninopel). Sekitar waktu yang sama di gereja barat, Pengakuan Iman Rasuli menemukan bentuk akhirnya (gereja timur tidak pernah memakai itu).

Chalcedon

Kemudian fokus perdebatan teologis berpindah dari hubungan Kristus dengan Tuhan kepada hubungan antara hakikat manusia  Kristus dan hakikat ilahi Kristus. Salah satu cara untuk mengerti perdebatan ini adalah melihat bagaimana teologi-teologi berbeda berkembang dalam dua pusat besar gereja timur, yaitu, Antiok dan Aleksandria.

Orang Aleksandria, mengikuti Origen, menekankan perbedaan di antara tiga pribadi Trinitas. Akan tetapi mereka tidak mau menekankan lagi perbedaan dalam pribadi Kristus. Apollinarianisme dan monophysitisme adalah misal ajaran ini yang diambil terlalu jauh. Pada Antiok mereka menekankan kesatuan keTuhanan dan lebih siap untuk  berbicara tentang dua hakikat yang berbeda Kristus, yaitu manusia dan ilahi, ide bahwa pendapat orang Aleksandria adalah ajaran sesat. Nestorianisme adalah misal ekstrem dari jenis ajaran ini.

Kaisar baru memanggil Konsili yang lain, saat itu  di Chalcedon, kota dekat Constantinople, pada tahun 451. Pada Konsili ini ide-ide Leo, bishop Roma, diterima. Pandangan-pandangan yang ekstrim baik dari Antiok maupun Aleksandria ditolak. Definisi Chalcedon ini menjadi pernyataan baku iman yang benar di gereja Barat. Banyak gereja Timur juga menerima itu, tetapi beberapa gereja timur terus mengikuti ajaran Nestorius dan mendirikan pusat-pusat di Arabia, Persia dan Hindia dimana misi mereka berhasil baik—sampai penyerbu Islam datang.

 

Definisi Chalcedon

Kita, mengikuti Bapa-Bapa suci, dan semua setuju, mengajar semua orang untuk mengakui Anak yang satu dan sama, Tuhan kita Yesus Kristus, yang sama sempurna di ke-Allahan, dan juga sempurna di kemanusiaan; Allah sesungguhnya dan manusia sesungguhnya, dengan jiwa rasional dan tubuh;  sehakikat dengan Bapa menurut ke-Allahan, dan sehakikat dengan kita menurut kemanusiaan; dalam semua hal serupa kita, tanpa dosa; diperanakkan sebelum semua waktu dari Bapa menurut ke-Allahan, dan di hari-hari yang terakhir, bagi kita dan bagi keselamatan kita, lahir dari  perawan Maria, yang mengandung Allah menurut kemanusiaan; satu dan Kristus yang sama, Anak, Tuhan, Tunggal, untuk diakui dalam dua kodrat, yang tidak dibauri, tidak  diubah, tidak bagi, tidak dipisahkan; perbedaan kodrat-kodrat tidak dihapuskan oleh penyatuan, melainkan sifat dari setiap kodrat dipeliharakan, dan berada sekaligus dalam satu Pribadi dan satu Hakikat, tidak dibagi ke dalam dua pribadi, tetapi satu dan Anak yang sama, dan Tunggal, Allah yang Firman, Tuhan Yesus Kristus, seperti nabi-nabi sejak permulaan menyatakan tentang Dia, dan Tuhan Yesus Kristus sendiri mengajari kita, dan Pengakuan Bapa-bapa suci diteruskan kepada kita.

Alkitab di dalam Bahasa Latin

Pada Tahun 382 bishop Damasus, dari Roma, meyakinkan sekretarisnya, Jerome, untuk menerjemahkan seluruh Alkitab ke dalam bahasa Latin. Sama seperti Origen (185-254) sebelumnya  menghasilkan naskah di dalam bahasa Yunani yang jelas dari berbagai sumber, maka Jerome mengedit Alkitab baru di dalam bahasa Latin, yang menjadi Alkitab yang digunakan oleh gereja barat selama 1000 tahun ke depan. Alkitab itu dikenal sebagai Vulgate (berarti umum).

Kembali ke awal

3. Perkembangan Gereja Barat

Pada tahun 597 Augustine diutus oleh Sri Paus Gregory I sebagai misionaris dari kota Roma ke Britania. Augustine mendirikan misi di bagian tenggara dan membangun Katedral di Canterbury, dimana dia menjadi Archbishop Canterbury yang pertama. Misi Augustine mendapat keberhasilan yang besar dengan para kerajaan kafir Anglo-Saxon. Gereja menjadi cukup kuat sebagai pusat misi bagi Eropa tengah.

Gereja bertradisi Keltik dan Gereja bertradisi Roma memerlukan waktu untuk mencari jalan bekerja sama. Pada tahun 663 konferensi di Whitby menyelesaikan perselisihan itu. Sesudah itu gereja di Inggris berada di bawah kekuasaan Romawi.

Charles Agung  (Charlemagne)

Pada tahun 774 bishop Romawi Hadrian I membuat persetujuan dengan Raja Charles dari bangsa Franks. Persetujuan ini memberi perlindungan gereja terhadap kaisar Timur dan kelompok Eropa yang lain yang mencoba menguasi Italia. Charles ingin mengembalikan kejayaan Roma. Dia membangun kembali kekaisaran yang membentang jauh ke Jerman Utara. Pada tahun 800, Paus Leo III menobatkan dia menjadi Kaisar Romawi Kudus yang pertama.  Dia dikenal sebagai Charles yang Agung atau Charlemagne. Dia membangun gereja-gereja yang besar, dan memulai rencana yang besar  untuk menyalin naskah-naskah. Dia mencoba mengubah bentuk masyarakat menurut agama Kristen, dan dia mereformasi liturgi gereja.

Keretakan di antara Timur dan Barat

Tindakan Charles Agung menjadi pusat perdebatan besar antara gereja Timur dan Barat, yang akibatnya menjadikan mereka terpisah. Sesudah Konsili Constantinople pada tahun 381, teks  Pengakuan Iman Nicea menyatakan bahwa Roh Kudus keluar dari Sang Bapa. Augustine dari Hippo, mempengaruhi gereja untuk mengakui bahwa Roh Kudus keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak (kata di dalam bahasa Latin adalah filioque). Pada abad ke-7, gereja Spanyol menambah frasa ini ke dalam versi Pengakuan Iman mereka, dan sesudah tahun 800 Charles menggunakannya dalam kapel pribadinya. Gereja Timur menjadi marah karena penambahan ini dalam Pengakuan Iman. Gereja Romawi menambahkannya ke dalam versi Pengakuan Iman mereka pada abad ke-11, dan akhirnya, sesudah perundingan-perundingan di antara bishop Roma dan Patriarch Constantinople gagal, Sang Paus mengucilkan Patriarch itu pada tahun 1054.  Keretakan terus berlangsung sampai kini.

Peningkat Kekuasaan Kepausan

Seorang Italia bernama Hildebrand sudah bekerja untuk kepausan sejak 1040an. Pada tahun 1073 dia menjadi Paus Gregory VII. Dia mulai menciptakan kesan dan struktur yang baru untuk gereja, dimana Paus dan gereja akan memerintah atas segala kerajaan dunia. Pernyataan bahwa gereja dan Paus memiliki penguasaan atas seluruh dunia merupakan hal yang baru. Di Gereja Barat, bishop Roma berangsur-angsur menjadi pusat kekuasaan karena tidak memiliki saingan. Akan tetapi Gregory memutuskan bahwa dia tidak hanya menjadi Wakil Petrus, tetapi juga Wakil Kristus.

“Sumbangan (Donation of) Constantine” adalah dokumen yang dipalsukan. Dokumen tersebut dinyatakan ditulis oleh Kaisar Constantine pada tahun 313. Dokumen tersebut memberi bishop Roma kedudukan tertinggi dalam gereja  dan mengangkatnya menjadi penguasa atas seluruh kekaisaran Barat. Dokumen ini mungkin dipalsukan sekitar masa awal Kekaisaran Romawi Kudus, tetapi dokumen ini  belum dapat dibuktikan sebagai palsu sampai pada zaman Renaissance. Akan tetapi sumbangan Constantine memperkuat status dan kekuasaan kepausan. Gregory VII dua kali mengucilkan Kaisar Romawi Kudus tentang siapa yang memiliki hak untuk mengangkat bishop-bishop. Sejak waktu itu Paus mengangkat semua bishop dan berangsur-angsur memiliki otoritas untuk mengangkat semua pendeta.

Pada abad ke-12 Archbishop Canterbury, Thomas a Becket dibunuh karena perselisihan mengenai apakah Raja Inggris atau Paus yang memegang kekuasaan tertinggi gereja di Inggris.

Perkawinan

Gereja menjadi lebih disentralisasikan, sistem paroki dikembangkan, dan proses dimulai untuk mengharamkan kaum rohaniwan menikah.  Sebelumnya biarawan dan pendeta yang lebih tinggi, pada umumnya tidak diizinkan menikah. Pada Konsili Lateran kedua pada tahun 1139, semua kaum rohaniwan diharamkan untuk menikah, dan perkawinan yang sudah berlansung dinyatakan tidak sah.

Gereja juga memperpanjang kekuasaannya atas kaum awam. Sejak abad ke-9 beberapa orang mengajarkan bahwa perkawinan adalah sakramen. Pada abad ke-11 dan ke-12 ajaran ini menjadi ajaran yang diterima, dan perkawinan juga berada di bawah kekuasaan gereja.

Makin kekuasaan disentralisasikan di Roma, birokrasi makin bertambah besar. Abad ke-12 juga masa ketika hukum gerejawi (Canon Law) dipersatukan dan diatur, khususnya oleh biarawan Italia, Gratian. Bishop-bishop juga mengembangkan birokrasinya sendiri, serta Raja-raja dan orang-orang bangsawan sering memanfaatkan para bishop ini dan pendeta yang lain dalam administrasi mereka yang  sekuler.

Universitas-universitas

Pada abad ke-12 dan ke-13 gerakan dengan ajaran yang salah  menarik banyak penganut. Akan tetapi gereja juga mendirikan sekolah-sekolah yang terkait dengan katedral-katedral, beberapa menjadi universitas.  Ini adalah masa ketika universitas-universitas mulai didirikan di Eropa. Kehidupan intelektual baru mulai berkembang sebagai akibat dari perhatian yang baru tentang karya Arisotle. Karya-karya Aristotle terkenal di dunia Yahudi dan Islam. Melalui hubungan dengan kaum Islam, karya tersebut diterima para Kristen di barat dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Peristiwa ini menghangatkan perhatian yang besar  terhadap tulisan purbakala.  Perdebatan intelektual di universitas baru memusatkan diri pada bagaimana menghubungkan penggunaan akal dengan kebenaran yang diwahyukan dalam Kitab Suci. Gerakan ini menjadi dikenal sebagai skolasticisme.

Thomas Aquinas (1225-1274)

Thomas Aquinas (1225 –1274) lahir dari keluarga ningrat di Aquino di Italia. Dia menjadi anggota orde Dominican dan belajar di Italia dan di universitas Cologne serta Paris (universitas terkemuka pada masanya). Dia mempelajari karya-karya Aristotle dan mendorong bahwa semua karya tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Dia membantu gereja memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap Aristotle. Dia mengajarkan bahwa akal dan analisis tidak menggantikan iman dan wahyu, malahan membantu mengilustrasikan dan membuktikan bahwa iman dan wahyu tersebut benar.  Dia mengembangkan ide Aristotle bahwa setiap hal yang diciptakan harus mempunyai penyebab. Dia mengembangkan cara untuk menggambarkan hal-hal sesuai dengan penyebabnya dan menyerahkan semuanya kembali ke Tuhan sebagai asal muasal dari semuanya. Karya besarnya adalah Summa Theologiae. Dalam buku ini di membicarakan keberadaan dan hakikat Tuhan, dan juga hal-hal tentang hidup Kristen biasa. Usahanya untuk menghubungkan iman dan akal mempunyai pengaruh yang lama pada teologi Kristen (khususnya teologi Roma Katolik), tetapi bahkan pada masanya tidak  semua orang setuju dengannya.

Paus-paus dan Konsili-konsili

Pada tahun 1309 Paus memindahkan markas besarnya ke Avignon (di bawah tekanan Raja Prancis). Pada tahun 1377 Gregory XI pindah kembali ke Roma. Pada tahun 1378 ada dua Paus, keduanya dipilih oleh Badan Kardinal. Konsili di Pisa pada tahun 1409 mencoba menyelesaikan perpecahan, tetapi hanya menghasilkan paus ketiga. Akhirnya masalah dapat diselesaikan pada Konsili Konstans pada tahun 1415, tetapi kepausan tidak pernah memperoleh kembali martabatnya atau kekuasaannya, dan tidak pernah lagi dihormati sebagai Penguasa Dunia, kecuali, mungkin, pada tahun 1494, ketika Paus Alexander VI menggarisi pada sebuah peta untuk membagi Dunia Baru Amerika antara Spanyol dan Portugal.Sesudahnya beberapa menginginkan perubahan sebagaimana layaknya kekuasaan dijalankan. Mereka menolak ide Gregory VII bahwa Paus memiliki kekuasaan tertinggi. Mereka menyatakan bahwa Konsili Umum seharusnya menjadi kekuasaan tertinggi. Mereka dinamai Konsiliaris. Ada Konsili Umum yang dapat menyelesaikan perdebatan tentang ketiga Paus, pada tahun 1415. Akan tetapi pada tahun 1460 Paus Pius II (yang dipilih oleh Konsili itu)memberlakukan Bula yang mengharamkan naik banding ke konsili umum. Setelah peristiwa inilah maka menjadi tidak sah untuk naik banding ke konsili umum.

Kembali ke awal

4. Gerakan-gerakan menuju Reformasi

Sejak permulaan abad ke-14, gerakan-gerakan pikiran yang baru menantang gereja. Salah satunya disebut  Nominalisme. William dari Okham menantang semacam teori yang telah diajarkan Aquinas. Dia menyatakan bahwa konsepsi universal tidak mempunyai keberadaan. Sehingga tidak dapat mengatur sistem-sistem pikiran melalui pengunaan akal dan oleh karena itu tidak mungkin dapat mengerti Tuhan dengan akal. Itu berarti bahwa semua ajaran gereja harus diterima oleh iman. Ajaran tersebut tidak dapat dibuktikan oleh akal. Skeptisisme ini berpengaruh kuat pada gereja, dan meskipun ajaran itu ditolak oleh gereja, ajaran tersebut mencarikan jalannya masuk ke universitas-universitas, dan mempunyai pengaruh yang panjang. Ajaran ini juga mempengaruhi kaum Reformis.

John Wyclif,  dari Universitas Oxford, adalah salah satu ahli filsafat yang terkemuka pada zamannya. Dia mengajarkan bahwa gereja yang benar adalah gereja yang rohani dan tak kelihatan, dan hanya beranggotakan orang-orang yang diselamatkan. Dia berpendapat bahwa gereja yang tampak, yang diperintah oleh Paus-paus dan bishop-bishop tidak dapat menjadi gereja yang benar. Dia juga mengajarkan bahwa Kristus hidup dalam kemiskinan, dan gereja adalah tubuh rohani semata-mata tanpa kekayaan. Dia berpendapat bahwa otoritas dalam gereja harus didasarkan pada Alkitab, dan bahwa semua ajaran dan perbuatan gereja seharusnya diuji berdasarkan Alkitab. Oleh karena itu dia ingin agar setiap orang dapat membacanya. Wyclif juga menentang ajaran transubstansiasi. Dia juga orang pertama yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris, tetapi pada tahun 1407 semua versi Alkitab dalam bahasa Inggris dilarang. Setelah kematiannya pada tahun 1384, pengikutnya, dikenal sebagai Lollards (istilah yangberarti orang yang suka beromong kosong), terus membaca tulisannya, tetapi mereka, pada umumnya, dianiaya, dan tidak dapat mengembangkan ajaran lebih lanjut.

Di Bohemia, Jan Huss, dekan Fakultas Filsafat pada Universitas Prague, tertarik pada ide-ide Wyclif. Dia berkata dengan tegas untuk mereformasi gereja, tetapi dia dikucilkan oleh salah satu dari ketiga Paus. Dia naik banding ke Konsili Umum yang mengadakan pertemuan di Constance pada tahun 1415. Konsili itu menyelesaikan masalah tentang tiga paus, tetapi menjatuhkan hukuman terhadap Huss. Dia dibakar mati di tiang pembakaran. Pemberontakan nasional di Czechoslovakia terjadi setelah kematiannya. Beberapa penganutnya menetap di Moravia, dan  berpengaruh di Inggris pada masa Wesley, pada abad ke-18.

Reformasi dan perubahan lain dicoba pada akhir abad ke-15. Savanarola di Florence mencoba mereformasi kehidupan orang-orang Kristen dan gereja. Dia meyakinkan orang-orang untuk melepaskan kekayaan mereka dan untuk hidup sederhana. Dia sangat populer untuk sementara waktu di Florence, tetapi akhirnya Paus dan gereja menjadi terlalu kuat, dan dia dibakar sebagai seorang yang bidah. Di Inggris, William Tyndale menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris pada permulaan abad ke-16.

William Tyndale

Tyndale adalah sarjana dari Universitas Oxford yang dipaksa melarikan diri ke Belanda karena kepercayaannya.

Pada tahun 1525-6 Tyndale menerbitkan Perjanjian Baru dalam bahasa Inggris. Alkitab Inggris ini menjadi dasar untuk semua terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris kelak. Sebelum wafatnya sekitar 16,000 jilit Alkitab Inggris diselundupkan ke Inggris.

Tyndale dibunuh di Belanda pada tahun 1536 oleh petugas Kaisar Roma Suci dengan persetujuan Bishop London dan Raja Henry VIII.

Di Italia humanisme berkembang sementara para peneliti menolak perdebatan kaum skolastik dan mulai mencari pengertian hidup manusia melalui sastra kuno. Perhatian baru terhadap karya tulis yang berasal dari Yunani dan Romawi kuno timbul.   Akibat perluasan Kekaisaran Ottoman (Turki), banyak naskah purbakala tersebar dari tempat di Timur, seperti Constantinople (Istanbul), ke Eropa.  Naskah itu dibawa oleh para pengungsi. Sarjana-sarjana mengumpulkan naskah kuno dan menerbitkan edisi yang baru. Gerakan ini dikenal sebagai Renaissance. Mesin cetak dikembangkan pada abad ke-15 dan gagasan-gagasan baru mulai meluas.

Di Eropa utara gerakan baru yang dikenal sebagai Devotio Moderna mulai mentransformasikan kehidupan para orang Kristen. Tujuannya adalah hidup sederhana, yang penuh dengan doa-doa dan ibadah. Biara-biara baru didirikan. Erasmus, seorang Belanda, adalah biarawan Augustine yang dipengaruhi oleh Devotio Moderna. Dia tidak menyukai hidup sebagai biarawan, dia malah menjadi editor naskah-naskah. Dia beralih ke teologi, belajar bahasa Yunani, dan kemudian menerbitkan  edisi baru karya bapa-bapa gereja Latin dan Yunani, dan juga pada tahun 1516, edisi baru Perjanian Baru dalam bahasa Yunani. Peristiwa ini  berpengaruh kuat pada cara orang Kristen memahami imannya, karena naskah Perjanjian Baru ini memberikan pengertian yang berbeda.  Sebelumnya orang membaca Alkitab versi Vulgate dalam bahasa Latin, yang diterjemahkan oleh Jerome pada abad ke-14. Perjanjian Baru Erasmuslah yang merupakan Alkitab terpenting di tangan kaum Reformis.

Pada tahun 1517 Martin Luther, seorang biarawan Jerman, menentang Gereja Jerman, dan kemudian juga Sri Paus,  mengenai banyak penyalahgunaan yang berkembang di Gereja, misalnya penjualan Indulgences (yaitu, “surat penghapusan dosa, atau surat jaminan pengurangan hukuman dalam api penyucian” – istilahnya adalah Purgatory).

Banyak penyalahgunaan yang terjadi di Gereja didasarkan atas pikiran bahwa orang harus melakukan perbuatan baik agar diselamatkan; tetapi apabila perbuatan baik itu tidak cukup, jasa orang kudus dapat ditambahkan pada perbuatan baik tersebut.

Salah satu masalah yang paling penting pada masa Reformasi adalah mengenai bagaimana orang mendapatkan pembenaran Allah. Menurut Luther pesan Alkitab yang jelas adalah bahwa pembenaran hanya terjadi karena iman.

Luther menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman supaya orang Kristen Jerman bisa membaca Alkitab dalam    bahasanya sendiri ketimbang dalam bahasa Latin.

Lutheranisme

Pada tahun 395 Augustine menjadi Bishop Hippo di Afrika Utara. Tulisan-tulisannya tentang gereja dan tentang keselamatan menjadi penting sejak waktu itu. Pada tahun 1490 seorang pencetak Swis mencetak edisi baru karya Augustine (diperlukan 16 tahun untuk menyelesaikannya). Pemikiran baru yang terkandung dalam karya Augustine ini telah mempengaruhi banyak orang dalam lingkup gereja; salah satu di antaranya adalah Martin Luther.

Luther adalah biarawan dari ordo religius Augustinian, dan dosen teologi pada Universitas Wittenberg. Kuliahnya tentang kitab Mazmur dan Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma memberikan pengertian baru tentang pembenaran karena iman. Pada tahun 1517 Luther memesang 95 Tesis pada pintu gereja di Wittenberg. Dia mengundang orang lain untuk memperdebatkan masalah gereja yang menurutnya harus diubah.

Protes Luther tidak hanya terbatas pada penyalahgunaan yang terjadi dalam gereja. Ia juga terdorong oleh gagasan besar bahwa seseorang dibenarkan oleh Allah melalui iman karena kasih karunia Allah. Luther memperoleh gagasan ini dari Augustine dan  dari Alkitab.

Luther dikucilkan dari gereja oleh Sri Paus. Banyak orang Jerman dan orang lain mengikuti ajaran Luther dan gerakan reformasi kemudian meluas Eropa Utara.

Luther tidak melakukan reformasi dalam semua hal di gereja lama. Dia tidak merasa khawatir tentang patung-patung. Menurut Luther transubstantiasi adalah salah, tetapi dia mempercayai kehadiran sesungguhnya dari Kristus secara rohani dalam Perjamuan Kudus. Luther berpendapat bahwa para pendeta seharusnya diperbolehkan menikah. Teologi yang dianut Luther tentang Gereja dan Perjamuan Tuhan berbeda dari yang dianut oleh Calvin dan Zwingli.

Kembali ke awal

5. Reformasi di Inggris

Dulu di Inggris ada berbagai usaha untuk mereformasi keadaan waktu itu. Pada abad ke14 John Wyclif mulai menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris, tetapi dia ditentang oleh para penguasa.  Para pengikut Wyclif, disebut Lollards, dianiaya tetapi mereka tetap mempertahankan harapan akan terjadinya reformasi. Kesempatan untuk reformasi baru muncul pada masa Henry VIII.

5.1 Gereja di Inggris di bawah Raja Henry VIII

Henry VIII menjadi Raja Inggris pada tahun 1509. Pada tahun 1502, kakaknya, Arthur, meninggal dunia. Ayah mereka, Henry VII, memutuskan bahwa Henry harus menikahi janda Arthur, Catherine dari Aragon. Henry dan orang-orang lain berpendapat bahwa pernikahan tersebut dilarang menurut Imamat 18 dan 20. Namun, Sri Paus mengijinkannya dan mereka menikah sesudah Henry VIII menjadi Raja. Hingga tahun 1514 mereka belum mendapat anak, dan Henry meminta Sri Paus agar membatalkan pernikahan itu. Akhirnya mereka dikaruniai seorang anak perempuan, Mary, yang lahir pada tahun 1516. Namun demikian sampai pertengahan tahun 1520-an mereka masih belum mendapatkan anak laki-laki.  Henry mulai berpikir bahwa Allah menghukum dia.

Henry mulai mencari cara mengakhiri perkawinannya dengan Catherine (pada saat itu dia sudah jatuh cinta pada Anne Boleyn). Henry mempekerjakan beberapa kelompok sarjana  untuk mencarikan alasan yang tepat dan baik, menurut Alkitab, mengapa perkawinannya dengan Catherine memang   sepantasnya diakhiri. Salah satu sarjana ini adalah Thomas Cranmer, lulusan Universitas Cambridge. Mulai tahun 1527 Thomas mengunjungi universitas-universitas di Eropa dan beberapa kaum Reformis Eropa untuk mencari dukungan mereka.

Sri Paus tetap menolak untuk membatalkan perkawinan itu. Salah satu pikiran para sarjana adalah bahwa Raja seharusnya menjadi kepala tertinggi Gereja di Inggris dan bukan Sri Paus.

Sebelumnya, Henry taat kepada gereja Roma. Pada tahun 1521 dia  menerbitkan esei tentang Tujuh Sakramen  melawan Luther. Oleh karena itu, Sri Paus memberi Henry gelar “Pembela Iman”.

Pada tahun 1533 Thomas Cranmer diangkat menjadi Archbishop Canterbury. Pada tahun yang sama Parlemen mengesahkan undang-undang yang melarang orang Inggris naik banding kepada Sri Paus untuk keputusan hukum atau gereja.  Salah satu maksud undang-undang ini adalah menghalangi Catherine dari Aragon naik banding atas perceraiannya.  Pada bulan Mei perkawinan itu dibatalkan oleh Archbishop Cranmer, tetapi pada waktu itu Raja sudah   menikahi Anne Boleyn yang sudah hamil sebelumnya. Anne dinobatkan menjadi Ratu pada akhir bulan Mei.

Pada tahun 1534 Parlemen mengesahkan Undang-undang Keunggulan (the Act of Supremacy), yang menyatakan bahwa Raja adalah kepala tertinggi Gereja Inggris.

Sejak itu Raja dan Archbishop mulai merombak gereja. Selama tujuh tahun ke depan mereka dibantu oleh Thomas Cromwell, yang menjadi orang yang paling berkuasa di    kerajaan sesudah Raja. Raja tidak mau mengadakan terlalu banyak reformasi teologis, dan dia selalu mencoba  mengimbangi kekuatan kaum reformis dan kaum tradisionalis.

Perubahan yang penting selama pemerintahan Henry adalah:

Kebaktian diadakan dalam bahasa Inggris.

Pada 1544 Litany (ibadah doa) merupakan ibadah pertama yang memakai bahasa Inggris. Sebelumnya, dalam     semua kebaktian dipakai  Bahasa Latin, yang tidak dipahami oleh sebagian besar orang. Kelak semua kebaktian juga menggunakan bahasa Inggris.

Alkitab dalam bahasa Inggris.

Pada tahun 1537 pemerintah memerintahkan agar ada Alkitab bahasa Latin dan Alkitab bahasa Inggris di setiap gereja wilayah. Pada tahun 1539 the Great Bible (Alkitab Besar) diterbitkan di dalam bahasa Inggris. Mungkin Alkitab  tersebut sudah disunting oleh Miles Coverdale dan berdasarkan terjemahan sebelumnya termasuk terjemahan William Tyndale.

Pemusnahan patung-patung.

Pada masa pemerintahan Raja Henry, dikeluarkan    perintah agar semua patung dan tempat keramat di gereja-gereja harus dimusnahkan. Perintah itu dikaitkan dengan cara baru penomoran Sepuluh Perintah Allah. Sebelum Reformasi, perintah tentang patung-patung merupakan bagian dari perintah pertama dan tidak dianggap sangat penting. Sekarang hal ini dipandang sebagai hukum yang berdiri sendiri.

Biara-biara.

Pada pertengahan tahun 1530an biara-biara ditutup dan tanah milik biara-biara tersebut diambil pemerintah.

Teologia.

Perubahan teologis utama adalah tentang pembenaran karena iman.  Sayangnya Henry tidak mengikuti Cranmer dan orang-orang reformis yang lain. Dia berpikir bahwa gagasan hanya iman saja  merusak moral. Dia berpikir bahwa gagasan tersebut meniadakan nilai perbuatan baik, dan dengan demikian  akan membahayakan keamanan kerajaan.

Perjamuan Kudus.

Perdebatan teologis besar yang lain adalah tentang Misa (istilah Perjamuan Kudus di Gereja Katolik Roma).  Ajaran Katolik tentang transubstantiation menyatakan bahwa pada waktu Misa, hakikat roti dan anggur menjelma menjadi tubuh dan darah Kristus yang sesungguhnya. Pada masa pemerintahan Henry, Cranmer mengatakan bahwa ajaran ini tidak benar. Dia menentang ide bahwa Kristus dikorbankan lagi setiap kali ada Misa. Dia juga menentang ide bahwa pengorbanan Kristus pada Misa ini dapat menolong orang-orang yang sudah meninggal dunia.  Bahkan Cranmer mempercayai kehadiran sesungguhnya dari  Kristus di dalam Perjamuan Kudus,    pandangan ini serupa dengan pandangan Luther  (maksudnya, tubuh dan darah Kristus hadir sungguh-sungguh dalam Perjamuan Tuhan, tetapi roti dan anggur tidak berubah). Kelak dia berubah pikiran lagi dan menyatakan bahwa tubuh Kristus ada di dalam surga dan bahwa kita menerima dan memakan Kristus di dalam hati saja dengan iman.

Raja Henry meninggal dunia pada tahun 1547.

5.2 Gereja Inggris di bawah Raja Edward VI

Edward menjadi Raja ketika berumur sembilan tahun. Ia adalah anak lelaki Henry VIII dan Jane Seymour, istri ketiga Henry.  Jane meninggal dunia dua minggu sesudah Edward lahir.  Pemerintah dikuasai sebuah dewan, yang dipimpin oleh saudara laki-laki Jane, Edward, yang memerintah atas nama Raja Edward. Raja meninggal dunia karena penyakit tuberculosis, ketika berumur 16 tahun pada tahun1553. Raja dan Dewan mencoba mencegah putri Henry VIII, Mary, menjadi Ratu. Oleh karena itu, mereka memutuskan bahwa Lady Jane Grey (anak perempuan saudara Henry VIII, yang juga bernama Mary) akan menjadi Ratu yang berikut. Akan tetapi Mary mendapat lebih banyak dukungan. Jane menjadi Ratu selama sembilan hari saja dan dihukum mati beberapa bulan sesudah berumur 17 tahun.

Edward adalah raja Protestan dan di bawah pemerintahannya Cranmer dan yang lainnya dapat  melanjutkan reformasi di dalam Gereja Inggris.

Perkembangan utama pada saat itu adalah munculnya Buku Doa di dalam bahasa Inggris saja. Buku Doa Pertama pada 1549 meniadakan banyak bagian buruk dari ibadah suci lama.  Buku itu merupakan kumpulan semua ibadah suci. Buku Doa ini disahkan untuk dipakai di setiap gereja, sehingga dan sejak itu di seluruh Inggris setiap jemaat gereja memakai buku ibadah suci yang sama.

Pada tahun 1550 Raja memerintahkan agar semua altar batu disingkirkan dari gereja. Altar batu diganti dengan meja kayu karena para Reformis menyatakan bahwa Perjamuan Kudus adalah perjamuan, dan bukan pengorbanan.

Buku Doa tahun1552 mencakup banyak lagi perbaikan. Ibadah Perjamuan Kudus diubah menjadi liturgi yang lebih reformis. Cranmer ingin menghindari pikiran tentang kehadiran sesungguhnya dari Kristus dalam sakramen. Kata-kata pelayanan tidak lagi menyatakan bahwa roti dan anggur dapat “memelihara badan dan jiwa mereka sampai ke kehidupan kekal”. Justru mereka harus “ambil dan makan ini sebagai peringatan bahwa Kristus mati bagi kalian dan makanlah tubuhnya di dalam hatimu dengan iman, dan pengucapan syukur”.

Buku Doa tahun 1552 juga mengakhiri kebiasaan berdoa dan mengadakan Misa untuk orang yang sudah meninggal.

Selama bertahun-tahun Cranmer dan yang lainnya menyiapkan pernyataan iman.  Pernyataan itu terdiri atas 42 Pasal yang menyatakan ide-ide utama yang dipercayai oleh Gereja Inggris. Pasal-pasal ini dikeluarkan pada akhir pemerintahan Edward dan kelak menjadi dasar dari 39 Pasal.

Zwingli

Huldrych Zwingli membaca Perjanjian Baru Erasmus dalam bahasa Yunani pada tahun 1516 dan pikirannya mulai berubah. Dia melihat bahwa gereja pada jamannya berbeda daripada gereja yang digambarkan dalam Perjanjian Baru. Zwingli menjadi pengkhotbah di Zurich (di negeri Swis) pada tahun 1518.

Dua sumbangan utamanya kepada Reformasi adalah idenya tentang Perjamuan Tuhan dan ajarannya tentang Perjanjian.

Zwingli  menyatakan bahwa roti dan anggur di dalam Perjamuan Kudus adalah simbol-simbol yang dimaksudkan untuk mengingatkan kita akan kematian Kristus.

Dia tidak setuju dengan pandangan Luther. Namun, reformis lain misalnya Bullinger (yang mengikuti Zwingli di Zurich), Calvin, dan Cranmer menyatakan teologinya secara berbeda dari Zwingli.

Ide Zwingli tentang perjanjian dikembangkan lebih lanjut oleh reformis lain. Ide perjanjian ini membantu memberi teori untuk pembaptisan bayi, dasar untuk perilaku moral, dan cara mengaitkan politik negeri dengan Alkitab. Idenya adalah beberapa perjanjian, yang Allah buat dengan manusia, bersyarat (undang-undang harus ditaati) dan beberapa tidak bersyarat (kasih karunia Allah diberikan tanpa syarat). Perjanjian-perjanjian juga dibuat dengan kelompok, misalnya negeri atau suku. Jadi, semua orang dalam kelompok itu berada di bawah perjanjian. Mereka memperoleh keuntungan dari perjanjian itu dan harus mentaatinya.

5.3 Gereja Inggris di bawah Ratu Mary

Mary adalah anak perempuan Henry VIII dan Catherine of Aragon. Catherine adalah istri pertama Henry dan orang yang berperan penting dalam pemutusan hubungan dengan Roma. Mary adalah pendukung kuat kekuasaan Sri Paus, dan segera mulai mengembalikan agama lama dan kebiasaan-kebiasaannya ke Inggris. Beberapa reformis terkemuka      dihukum mati, termasuk bishop Ridley dan Latimer pada    tahun 1554.  Mereka adalah dua di antara pemimpin yang mendukung Reformasi secara terang-terangan di bawah Edward VI. Cranmer dibakar sampai mati di tiang pembakaran pada bulan Maret 1556. Hampir 300 orang lain dihukum mati selama lima tahun pemerintahannya.

Misa di dalam bahasa Latin diberlakukan kembali dan altar batu dibangun lagi. Mary mengganti bishop reformis dengan bishop lain yang taat kepada Sri Paus. Dia memberlakukan ketentuan pelajangan untuk para pendeta. Mary menikahi Philip II dari Spanyol, tetapi tidak mempunyai anak.  Mary meninggal dunia pada tahun 1558.

Konsili Trent

Konsili terkenal ini berkumpul di tiga sidang, 1545-1547; 1551-1552; 1562-1563, di Trent, kota kecil di Italia utara, walaupun Kaisar Romawi Kudus, Charles V, ingin Konsili berkumpul di Jerman, dan Raja Prancis, tidak ingin Konsili berkumpul sama sekali.  Tidak ada Bishop dari Prancis yang hadir, dan Konsili dikuasai oleh para bishop dari Italia, walaupun sebenarnya, para Paus memegang kekuasaan yang sesungguhnya. Meskipun harapan Kaisar, Konsili menolak kompromi apa pun dengan gereja-gereja Reformasi. Beberapa pernyataan Konsili adalah jawaban atas pernyataan khusus dari Pengakuan-pengakuan Reformasi. Keputusan-keputusan Konsili memperkuat ajaran-ajaran tradisional Katolik Roma, walaupun juga merapikan banyak penyalahgunaan sistemnya.

5.4  Gereja Inggris di bawah Ratu  Elizabeth I

Elizabeth adalah anak perempuan Henry VIII dan Anne Boleyn. Dia menjadi Ratu pada umur 25 tahun. Elizabeth sangat berpendidikan dan saleh. Dia membaca Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani setiap hari.

Elizabeth mengembalikan reformasi yang ditetapkan Edward VI. Pada tahun 1559 dia memberlakukan kembali Buku Doa tahun 1552 dengan perubahan-perubahan kecil saja. Dia memutuskan bahwa Gereja Inggris adalah gereja reformis, tetapi dia memastikan agar gereja berkembang dengan cara yang berbeda dari gereja Luther dan Reformis. Dia tetap memakai tiga kelompok pelayanan, yaitu bishop, imam (presbiter/penatua), dan diaken. Keputusan ini disebut sebagai the 1559 Settlement (Penyelesaian), atau the Elizabethan Settlement.

Orang yang taat ke Gereja Katolik Roma tidak lagi menggunakan bahasa Latin atau Misa; biara-biara dan organisasi agama lainnya ditutup. Sebelumnya Mary membuat undang-undang bahwa para  pendeta membujang, sedangkan Elizabeth membolehkan pendeta menikah.

Pada tahun 1563, 42 Pasal diterbitkan sebagai 39 Pasal.

Pada  tahun 1570 terjadi kekacauan politik yang terkait     dengan para simpatisan Katolik. Kekacauan berhasil dipadamkan tetapi sesudah itu tidak ada gerakan kuat di arah lain terhadap gereja-gereja Reformis. Ini mengecewakan banyak orang Protestan yang berpendapat bahwa masih ada banyak lagi yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan reformasi gereja.

Timbul kelompok yang ingin meneruskan reformasi gereja. Beberapa ingin mengganti bentuk pemerintahan episkopal dengan bentuk presbiterian (kepemimpinan oleh penatua). Mereka tidak suka terlalu banyak liturgi dan berpendapat bahwa seharusnya ada lebih banyak khotbah. Mereka menamakan diri sendiri “yang saleh” (the godly), tetapi orang lain menamakan mereka Puritans (orang yang ingin murni). Namun Elizabeth menentang semua  penyimpangan dari Penyelesaian yang ditetapkannya pada tahun 1559 (the 1559 Settlement).

Menjelang akhir pemerintahannya, Richard Hooker  mengembangkan argumentasi mendukung Penyelesaian Elizabeth. Bagian pertama bukunya berjudul Undang-undang tentang “Pemerintahan Gerejawi” (Laws of Ecclesiastical Polity) diterbitkan pada tahun 1593. Argumentasinya merupakan jalan tengah antara orang Puritan dan orang Katolik. Dia   lebih mementingkan sakramen daripada khotbah.

Beberapa orang Puritan mengatakan, Perjanjian Baru menyatakan bahwa gereja seharusnya dipimpin secara presbiterian. Archbishop Canterbury pada waktu itu (Whitgift) mengatakan bahwa bishop-bishop sesuai untuk Inggris tetapi itu bukan cara satu-satunya untuk memimpin gereja. Lancelot Andrewes dan yang lain mulai mengajarkan bahwa maksud Allah adalah agar para uskup menjadi bagian penting dalam struktur gereja. Tidak ada gereja reformis lain yang menyatakan bahwa bishop diperlukan untuk Gereja.

Pada tahun 1590an, di bawah pengaruh Hooker dan  Andrewes, berkembang ide bahwa Reformasi terjadi di tempat lain bukan di Inggris. Mereka menyatakan bahwa ide Protestan dalam Buku Doa Gereja Inggris adalah akibat campur tangan asing. Kelompok baru ini ingin menekankan ide bahwa Gereja Inggris menyesuaikan dengan gereja lama tetapi dengan beberapa perubahan. Kelompok ini mencoba mengecilkan arti Reformasi di Inggris. Kelak ide ini menjadi sangat berpengaruh.

Elizabeth juga mendorong kehidupan musik dan kebaktian di Katedral. Ini memungkinkan berkembangnya pemuliaan   liturgis (yaitu liturgi yang formal dan megah) dan membantu kelompok baru (seperti Hooker dan Andrewes) menyatakan bahwa mereka melanjutkan kehidupan gereja pra-reformasi (meskipun sungguhnya mereka menggunakan Buku Doa yang direformasi Cranmer).

Calvin

Jean Calvin adalah orang Prancis yang melarikan diri dari penganiayaan di Paris ke Basel, tempat dia pada tahun 1536 menulis edisi pertama ”Institutes of the Christian Religion” yang tersohor. Pada tahun yang sama dia pergi ke Jenewa dan diminta menjadi pengajar di gereja. Calvin diminta meninggalkan Jenewa pada tahun 1538 dan dia pergi ke Strassburg. Pada tahun 1541 dia diundang kembali ke Jenewa . Selain karya “Institutes”nya, yang baru saja direvisi sebelum wafatnya pada tahun 1559, Calvin juga terkenal untuk khotbah dan penjelasan Alkitabnya. Di Jenewa Calvin berhasil menyusun struktur baru untuk gereja. Dia menyatakan bahwa ada empat fungsi pelayan di Perjanjian Baru: gembala (pastor), pengajar, penatua, dan diaken. Gembala dan pengajar itu bersama-sama merupakan Kelompok Gembala. Penatua bertanggung jawab untuk disiplin gereja. Struktur ini menjadi dasar gereja reformis lain.

5.5  Gereja Inggris di bawah Raja James I

Pada tahun1603 James VI dari Skotlandia menjadi James I dari Inggris dan memerintah kedua  kerajaan. Gereja  Skotlandia sangat reformis. Kaum Puritan Inggris mengharapkan perubahan saat James menjadi Raja. Dia mengadakan konferensi di Hampton Court (salah satu istana Raja) pada tahun 1604, tetapi hampir tidak ada permintaan kaum Puritan yang dikabulkan, kecuali pemakaian Alkitab baru. Alkitab yang Sah (the Authorised Version, yang dikenal juga sebagai King James Version) diterbitkan pada tahun 1611.

Satu kelompok yang makin besar pengaruhnya selama  pemerintahan James kelak dinamakan Arminians. Mereka   tidak terkait dengan pengikut seorang Belanda bernama Arminius. Mereka adalah kelompok Inggris yang ingin beribadah dengan lebih banyak upacara, lebih banyak menggunakan sakramen, dan sangat memandang tinggi panggilan tahbisan.

James menyeimbangkan kelompok ini dengan kelompok-kelompok Puritan dan reformis. Secara keseluruhan dia menguatkan teologi reformis.

5.6   Gereja Inggris di bawah Raja Charles I

Charles I menjadi Raja pada tahun 1625. Bersama William Laud, yang menjadi Archbishop Canterbury pada tahun 1633, Charles mencoba mengembalikan beberapa kebiasaan yang digunakan sebelum Reformasi, tetapi di dalam struktur gereja Inggris. Dia mengatakan bahwa meja Perjamuan Kudus seharusnya dianggap sebagai altar dan orang harus berlutut untuk menerima Perjamuan Kudus. Dia mencoba melarang khotbah Reformis. Pada tahun 1637 dia mencoba memaksakan penggunaan Buku Doa Inggris di Skotlandia. Buku Doa ini memperbolehkan orang merasa bahwa Kristus sungguh hadir dalam roti dan anggur pada Perjamuan Kudus.

Tidak semua orang suka dengan kebijakan-kebijakan Charles. Sebenarnya ada oposisi yang kuat. Pada tahun 1640 terpilih parlemen yang bersikap memusuhi. Laud dibuang ke Menara London dan dihukum mati pada tahun 1644.

Pada tahun 1642 perang saudara pecah di Irlandia dan menjalar ke Inggris dan Skotlandia. Parlemen memperdebatkan susunan baru untuk Gereja Inggris. Beberapa ingin mengganti bishop dengan bentuk pemerintahan Presbiterian. Pada tahun 1643 Parlemen memanggil sinode untuk mereformasi Gereja Inggris. Sinode berkumpul di Westminster, dan pertemuan ini dinamakan Westminster Assembly. Sinode ini menerbitkan   Pengakuan Iman Westminster (the Westminster Confession) pada tahun 1646. Ini adalah dokumen reformis dan kalvinis dan mendapat tempat yang penting di dalam kehidupan Gereja Skotlandia.

Pada tahun 1646 Raja kalah dalam perang antara pendukungnya dan Parlemen. Dia dihukum mati pada tahun 1649.

5.7 Persemakmuran

Oliver Cromwell adalah salah satu Jenderal utama dalam  tentara. Dia menjadi penguasa Inggris dan menamakan dirinya  “Tuan Pelindung” (Lord Protector). Selama masa pemerintahannya bermacam-macam bentuk kehidupan gereja yang Puritan dan Presbiterian berkembang.

Dia adalah prajurit yang baik tetapi politikus yang buruk dan perlu memerintah dengan dukungan tentara yang dibenci masyarakat.  Usahanya untuk memerintah Irlandia dan Skotlandia sangat ditentang.

Cromwell meninggal dunia pada tahun 1658. Tidak ada yang dapat mempertahankan kepemimpinannya yang kuat. Dan dua tahun kemudian tentara memutuskan mengembalikan kerajaan lama. Mereka membawa kembali Raja Charles II yang sudah dibuang. Dia dikembalikan ke takhta pada tahun 1660.

Kembali ke awal

6. Anglikanisme sejak 1662

Pada tahun 1662 Buku Doa Cranmer dan sistem Gereja   Inggris episkopal lama dikembalikan. Buku Doa Umum 1662 adalah versi  Buku Doa 1552 dan 1559 yang sudah direvisi. Keputusan Keseragaman (the Act of Uniformity) pada tahun 1662 mengakibatkan 3000 orang pendeta dan awam  meninggalkan Gereja Inggris. Golongan “Ingkar” ini (Dissenters) menginginkan gereja yang lebih reformis. Gereja Inggris melangkah lebih lanjut ke tengah-tengah di antara gereja Reformis dan gereja Katolik.

6.1 James II dan William III

James II, adik Charles II, menjadi Raja pada tahun 1685. Dia adalah seorang Katolik Roma yang taat. Bail orang Anglikan maupun orang Ingkar tidak mendukungnya, ketika pada tahun 1688, William III (William dari Orange) dan Ratu Mary menggantikan Charles.

William adalah seorang Protestan yang taat. Pada tahun 1689 Undang-undang Toleransi (Toleration Act) disahkan yang memperbolehkan orang beribadah lepas dari Gereja Inggris. Ini merupakan perkembangan yang berarti sekali. Sejak saat  itu berbagai jenis gereja Kristen bisa berkembang secara berdampingan di Inggris.

6.2  Abad ke-18

Pada abad ke-18 kehidupan moral dan spiritual Inggris  merosot. Banyak perkumpulan keagamaan baru muncul  untuk membantu memperbaiki kehidupan gereja dan bangsa. Pietisme (kesalehan – Pietism), gerakan dari Eropa, mengajarkan penekanan pada emosi dan pengalaman pribadi.

Gerakan-gerakan intelektual baru muncul dari karya filsuf-filsuf seperti Newton, Locke, Pascal, dan Descartes.  Mereka mempertanyakan kepercayaan yang sudah diterima oleh umum, dan mengemukakan cara baru untuk membuktikan kebenaran. Cara baru ini didasarkan atas penalaran dan pengajuan pertanyaan. Masa perubahan intelektual  ini dikenal sebagai “Masa Pencerahan” (The Enlightenment).

Revolusi Industri mengubah sifat masyarakat ketika pabrik dibangun di mana-mana dan orang berpindah ke kota  mencari pekerjaan.

6.3 Kebangkitan Injili

Kebangkitan Injili yang dipimpin John dan Charles Wesley dan George Whitfield juga mengubah Inggris. Kebangkitan ini merupakan permulaan gereja Methodis. Kebangkitan tersebut juga mendorong banyak pemimpin evangelis yang kuat untuk bertindak menentang perdagangan budak dan  mulai membuka sekolah-sekolah. Perkumpulan Misionari dibentuk, termasuk Church Missionary Society pada tahun 1799 dan British and Foreign Bible Society (Lembaga Alkitab) pada  tahun 1804.

Gereja Inggris juga bergabung dengan gerakan misionari abad ke-19. Para misionaris diutus ke semua bagian dunia – ke mana pun perluasan penjajahan Eropa memperbolehkan, yaitu mengikuti perluasan koloni Eropa. Muncul   banyak gereja nasional yang baru sebagai hasil gerakan pengutusan ini.

A fuller article (Artikel yang lebih penuh) on the 18th Century Evangelical Revival in English is here.

6.4 Gerakan Oxford

Pada abad ke-19 beberapa orang di Gereja Inggris mencoba memperbaiki kehidupan bangsa dengan mengembalikan gereja ke akarnya yang sudah ada sejak dulu. Sekelompok pendeta mulai menulis risalah-risalah (tracts) yang menantang bangsa untuk memperbaiki kehidupan mereka. Kelompok ini dikenal sebagai Tractarians. Mereka juga ingin mengembalikan kebiasan liturgis yang diubah pada masa Reformasi. Gerakan ini dikenal  sebagai “Gerakan Oxford”. Banyak kebiasaan Gereja Anglikan yang modern, yang mengembalikan upacara dan kepercayaan Katolik Roma lama, dihasilkan oleh gerakan ini.

Kembali ke awal

7.  Pesekutuan Anglikan Modern

Persekutuan Anglikan kini membentang sekitar dunia.

Banyak arus mempengaruhi gereja modern, tetapi empat di antaranya penting pada saat ini.

7.1  Anglo-Katolikisme

Gerakan Oxford mengakibatkan perkembangan baru di liturgi dan teologi. Banyak Gereja Anglikan mulai menggunakan upacara yang telah ditinggalkan pada Reformasi, dan beberapa pendeta mulai mengajarkan doktrin yang berpindah ke arah ajaran Katolik Roma, khususnya tentang ibadah Perjamuan Kudus. Beberapa mengatakan bahwa Kristus hadir sedikitnya secara rohani di ibadah Perjamuan, dan bahwa ibadah itu adalah persembahan lagi sebagai peringatan pengorbananNya. Beberapa ide yang mempengaruhi gerakan Anglo-Katolik juga berasal dari masa Hooker dan Andrewes pada akhir abad ke-17.

7.2  Liberalisme Pasca-Masa Pencerahan

Arus yang penting di teologi dikembangkan dari Masa Pencerahan. Selama abad ke-19 sarjana-sarjana memulai mempertanyakan banyak perkiraan tentang Alkitab, khususnya apakah mujizat-mujizat terjadi sesungguhnya. Beberapa juga mempertanyakan apakah penulis Injil menuliskan yang Yesus sebenarnya katakan dan melakukan, atau apakah mereka menuliskan apa yang gereja, dari waktu belakangan, anggap adalah penting.  Pada tahun-tahun terakhir, kesangsian ini dipakai pada banyak segi ajaran Alkitab. Salah satu tujuan banyak ahli teologia sekarang adalah membuat iman Kristen dapat diterima dan dapat dimengerti oleh orang-orang modern. Ajaran Kristen, oleh karena itu, diterapkan pada pandangan hidup dan budaya dunia modern.

Di Gereja Anglikan pendekatan ini menjadi berpengaruh di banyak bagian gereja yang sebelumnya adalah Anglo-Katolik, juga di bagian yang melebihkan upacara dan adalah waris-waris Hooker dan Andrewes, tetapi tidak mengikuti semua ajaran Gerakan Oxford (kadang-kadang disebut High church atau Broad church).

7.3  Evangelikalisme

Para Reformis menyebut  diri mereka orang evangelikal, dan arus evangelikal di Gereja Anglikan memiliki akar yang berasal dari John Wyclif. Orang-orang evangelikal pada umumnya mentaati ajaran Reformasi, khususnya yang terkait dengan keselamatan, Perjamuan Kudus, dan kekuasaan Alkitab, tetapi mereka juga dipengaruhi oleh Kebangkitan Injili pada abad ke-18. Mereka sangat menitikberatkan Injil dan keyakinan pribadi dalam Kristus. Kaum evangelikal juga berfokus pada penerapan Injil di dalam kehidupan masyarakat. Kini ada pendapat yang berbeda di antara kaum evangelikal tentang pentahbisan wanita dan gerakan karismatik.

7.4  Gerakan Karismatik

Sejak 1950an gerakan karismatik (penyesuaian Pentekostalisme) mempunyai pengaruh yang kuat pada Gereja Anglikan, khususnya bagian Anglo-Katolik dan evangelikal. Semula, gereja Anglikan karismatik dapat dibedakan dari jenis lain gereja Anglikan. Akan tetapi sekarang teologi dan kebiasaan karismatik telah diubah dan disatu-padukan di dalam cara yang berbeda oleh berbagai bagian gereja. Akibatnya gereja-gereja yang dipengaruhi oleh gerakan karismatik masih memelihara dasar evangelikal atau Anglo-Katolik yang asli.

7.5 Kecenderungan Baru

Dengan pertumbuhan gereja di Afrika dan selatan dunia, keretakan terjadi  antara gereja-gereja yang mentaati teologi tradisional dan gereja, khususnya di dunia barat, yang mencoba mengubah ajaran Kristen ke dalam budayanya dengan cara yang kelihatan untuk melemahkan kekuasaan Alkitab. Ketegangan kelihatan ketika wanita mulai ditahbiskan sebagai imam, dan lebih baru lagi, ketegangan besar muncul tentang kekuasaan dan pemakaian Alkitab mengenai hubungan seks yang sama.

Pada waktu yang sama ada percobaan untuk berfokus lebih bayak pada kekuasaan dan tanggung-jawab pada yang disebut Alat Kesatuan dari Persekutuan Anglikan (lihat Bab 4.5), khususnya Archbishop Canterbury dan para Primate. Laporan Windsor mengusulkan Perjanjian yang dapat menjadi cara untuk memperjelas tanggung jawab gereja-gereja di Persekutuan Anglikan. Terlalu awal untuk tahu apakah perjanjian itu akan berguna. Sekarang Gereja Anglikan adalah persekutuan atau persahabatan gereja-gereja swatantra yang mempunyai kebiasaan dan sejarah bersama (lihat Bab 4).

Terima kasih kepada Ibu Profesor Lillian Tedjasudhana, Dr Myrna Laksman-Huntley, dan  Miryam Selanno SS, atas bantuan besar tentang terjemahan dan  pengeditan.

Versi di dalam Bahasa Inggris adalah di sini.

© Hak Cipta Dale Appleby 2010

 

Kembali ke awal

 

You are here: Home Memperkenalkan Gereja Anglikan Sejarah Singkat Gereja Anglikan